Kisah Perjalanan Ke Puncak Termulus di Dunia 6 February 2008
Posted by Mardies in Iseng, d3 tkj, lucu, unik.Tags: gunung, Iseng, mendaki, muncak, paresmapa, pecinta alam, pengalaman, tkj, unik, week end
trackback
Hari Sabtu-Minggu kemarin aku naik gunung bersama teman-teman. Nah, sekarang coba kamu bayangkan sebentar, gimana rasanya naik gunung!
. . . . . . .
. . . . . . . . . . . . .
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
Gimana? Sudah? Kalau nggak bisa membayangkan sebaiknya nggak usah dipaksakan
Acara muncak ini khusus untuk mahasiswa TKJ (Teknisi Jardiknas) dan diikuti 12 peserta. Mardies, Armant (Ketua Keren™), Evi, Atik, Enik, Pras, Lisin, Yaya (teman Pras), Joe, Fendi, Sae dan Niko (teman Lisin). Tujuannya adalah Termulus (salah satu puncak Muria, Termulus tidak semulus namanya).
Jam 9 Pagi kami berkumpul di depan RSUD Soewondo untuk menunggu mobil jemputan carteran. Biaya carteran PP Pati – Gunung Sari(Pangonan) Rp. 120.000. Patungan 10 ribuan, pas dengan jumlah kami. Di lokasi start pendakian kami beristirahat sebentar (belum apa-apa kok sudah istirahat). Jam 12.30 kami memulai perjalanan.
Awalnya perjalanan kami mudah dan menyenangkan. Gerimis kecil dianggap tak berarti. Perjalanan melalui hutan pinus, kebun kopi dan mendekati puncak, hampir semua tanamannya adalah tumbuhan liar. Jalan yang kami lalui cukup licin karena hujan. Kami mendaki dengan diikuti hujan deras, angin kencang dan kabut. Namun sebagian menganggap keadaan ini seru. Jas hujan yang dipakai hampir tidak ada gunanya. Sebab pakaian maupun tas tetap basah.
Sampai di puncak Termulus jam 5 sore. Di puncak ada pondok kecil tanpa dinding. Ini cukup menolong. Dalam keadaan kedinginan, yang kami lakukan pertama adalah membuat minuman hangat, makan dan menjemur mengangin-anginkan apa saja yang basah. Tidak ada yang tahu berapa derajat suhu waktu itu karena tidak ada yang membawa termometer. Nafas kami beruap seperti di film-film. Persediaan logistik sangat cukup sehingga kami masih bisa berfikir logis
Dengan kayu-kayu basah, kami berupaya membuat api unggun. Mengumpulkan kayu-kayu kecil, kayu-kayu besar dijadikan kecil. Bungkus makanan, tisu, lilin, parafin kami kumpulkan untuk membantu nyala api. Sayangnya lupa membawa minyak tanah. Yang ada hanyalah spiritus yang tidak bisa tahan lama.
Gubuk kecil itu tidak mencukupi untuk kami semua. Sebagian bisa tidur (atau tiduran) dan menghangatkan badan seadanya dan sebagian mengalah duduk, ngopi dan ngobrol. Untuk mengisi waktu kami bercanda-tawa. Cerita-cerita lucu, tebakan-tebakan (kadang ada yang jorok) dan cerita horor cukup manjur untuk menghilangkan dingin dan capek. Sayangnya ini juga membuat beberapa teman cewek jadi risih dan takut. Maafkan kami kawan, soalnya itu kami anggap seru, sih
Acara lain adalah memanggang tempe dengan bumbu saus tiram dan blue band. Inilah makanan teraneh di dunia.
Malam itu tidak ada yang bisa tidur lama. Jam 3 kami sudah bangun. Ngobrol, memasak dan kembali bersenda gurau. Dua biduan cantik juga cukup menghibur. Pagi harinya cuaca mendung dan berkabut. Kami sempatkan berfoto-foto. Sayang tidak ada yang membawa kamera digital. Yang ada hanya HP berkamera yang memori dan baterainya tinggal sedikit.

1. Pras, 2. Evi, 3. Enik, 4. Sae, 5. Fendi, 6. Lisin, 7.Mardies, 8. Jo, 9. Niko, 10. Atik, 11. Armant. Yaya nggak kefoto karena masih malu-malu
Menikmati pemandangan di pagi hari sungguh menyenangkan, meski kadang harus terganggu kabut. Suasananya masih alami. Hebatnya, hampir setiap pohon terdiri dari bermacam-macam tumbuhan. Setiap pohon pasti ditempeli paku-pakuan (segolongan suplir), anggrek, lumut, jamur, berbagai macam benalu, dll.
Penderitaan selama mendaki kemarin seperti terlupakan dengan berbagai kegiatan yang kami lakukan di puncak.
Jam 10 pagi, waktunya kami turun gunung. Lagi-lagi hujan turun dan jalan semakin licin. Kami memaksakan untuk tidak memakai jas hujan. Medan yang ditempuh cukup berbahaya. Beberapa teman terpeleset puluhan kali dan ada yang sampai agak parah. Untunglah di tebing Patah Hati, yang berbatu-batu, tidak ada yang terpeleset. Di perjalanan turun ini Mardies nyeker (tidak pakai sandal/sepatu). Anti slip dan menyehatkan.
Kami baru lengkap berkumpul di Pangonan jam 3 sore. Jadi total waktu perjalanan naik sama dengan waktu perjalanan turun. Waktu turun lambat karena ada teman yang tidak tahan dingin. Kasihan.
Di rumah Mbah Inggi (Kepala Desa) kami bersih-bersih diri dan kembali ngobrol ngalor-ngidul-ngetan-ngulon sambil menunggu jemputan mobil Pak Kundi. Mobil datang, semua senang. Sempat mampir beli mie ayam (mie pangsit), tidak tahan melihat Atik kelaparan.
Mardies, Armant, Pras, Yaya, Evi dan Atik turun di pertigaan Randukuning menuju kediaman Ketua Keren™. Pras dan Yaya sudah bisa pulang duluan karena ada motor. Evi dan Atik menunggu jemputan. Sedangkan Mardies tidak jelas, sedang menunggu apa ditunggu? Akhirnya Mardies diantar Armant pulang pakai sepeda onta.
Sampai di rumah jam setengah delapan. Langsung ambruk dengan nyaman di kasur. Jam sepuluh bangun, membayangkan saat itu semua sudah tewas kecapekan. Senyum-senyum dan akhirnya ngakak seperti orang gila. Wakakakakakak…
Sebenarnya masih banyak yang mau diceritakan. Tapi sebaiknya nggak usah panjang-panjang. Kasihan sama para pembaca setia *lirik Kepala Suku*
Bersambung…
Tambahan: Cerita muncak versi Atik bisa dilihat di sini








pernah cempluk pas kemping gak bawa minyak tanah buat nyalain api unggun..alhasil tisu segulungan dibakar agar kayu menyala..
“………Di rumah Mbah Inggi (Kepala Desa) kami bersih-bersih diri dan kembali ngobrol NGALOR-NGIDUL-NGETAN-NGULON sambil…….”
*ngakak*
kaya kompas ajah… 4 arah mata angin…
ehm…
berarti naik gunungnya beneran nih….
“Di lokasi start pendakian kami beristirahat sebentar (belum apa-apa kok sudah istirahat)”
saia cuma bisa geleng-geleng kefala doank…
Kaget aku ada ninja di foto kamu hohoho ^o^
kalo dulu pernah maen di puncak apa namanya ya? hargo kali…
di daerah lasem. bahkan teman2 saya pernah bikin ekspedisi pembukaan jalur dengan nama buih halimun. mulai dari o mdpl alias buih ombak sampek ke beberapa ratus mdpl di punck, ketemu sama halimun (kabut/awan).
Acara semacam ini memang seru. Itu seperti menyatukan kita dengan bagian kita yang lain.
“Menikmati pemandangan di pagi hari sungguh menyenangkan, meski kadang harus terganggu kabut. Suasananya masih alami. Hebatnya, hampir setiap pohon terdiri dari bermacam-macam tumbuhan. Setiap pohon pasti ditempeli paku…”
Terasa hidup kembali setelah itu. Hingga kembali ke kota dan menghadapi RUtinitas.
Kirain Puncak Termulus tadi apaan gitu lho. Kirain maksudnya puncak paling mulus
. Udah berpikir kemana-mana dibikinnya. Ternyata memang namanya kek gitu ya. He3
Wah kok gak ngajak ajak kang ? aku yo hoby munggah gunung. Wah saiiki wes sregep nulis yoh.
sayang gak ada cerita cintanya. biar lebih romantis gitu!
Lho kok yg ceritanya mbk evi sama cool leader,ga diceritain sih mas? Padahal kan seru ceritanya.
GBU all
Eh, salam ma anak2 D3 TKJ disana yah…jangan lupa untuk naik ke puncak kesuksesan juga
[...] jarak antar rumahku ma warnet jauh banget sech!!! God Bless You All. Mardies juga punya cerita. Klik di sini dan bersiaplah untuk [...]
[...] Ada yang aneh pada ± 50 meter sebelum puncak. Di sana ada pohon-pohon pisang yang sepertinya ditanam manusia. Berada di dalamnya serasa di kebun, bukan di puncak gunung. Setelah beristirahat beberapa kali, akhirnya perjuangan kami terbayarkan. Jam 17.01 kami berhasil mencapai puncak Argo Piloso. Berarti dari Rejenu ke puncak memakan waktu 2 jam 21 menit. Waktu tempuhnya lebih singkat daripada ke puncak Termulus kemarin. [...]
[...] Kisah Perjalanan Ke Puncak Termulus di Dunia Catatan perjalanan naik gunung [...]
ora neng depok meneh dis????
naik busway gmn?