Petualangan Mardies dengan Seorang Nenek 21 February 2008
Posted by Mardies in Curhat, Iseng, d3 tkj, lucu, unik.Tags: adventure, ccna, cerita, Iseng, kuliah, lucu, nenek, Pati, pengalaman, petualangan, ujian, unik, wagu
trackback
Sebenarnya peristiwa ini terjadi sudah agak lama. Yaitu pada hari Rabu, 13 Januari yang lalu. Pengalaman ini sungguh berkesan. Namun seberapa pun berkesannya suatu pengalaman, pasti akan terhapus sedikit-demi sedikit dari memori otak seiring dengan berjalannya waktu. Maka, Mardies menuliskannya di blog wagu™ ini. Juga untuk memenuhi request dari teman-teman yang penasaran. Maklum, cerita ini cuma baru diceritakan secara lisan kepada dua teman dekat saja. Tentu saja dalam versi yang sudah dipersingkat. Sedangkan kepada teman-teman (kuliah) lain , Mardies belum menceritakannya. Jika diminta bercerita, selalu Mardies jawab dengan senyuman. Hehe.. senyuman yang membuat penasaran. Hahaha…
Sebelumnya Mardies peringatkan, tulisan ini panjang banget. Kalau capek bacanya berhenti saja, kemudian bisa dilanjut lagi. Asal jangan sepid riding saja
Pokoknya soal panjang tulisan, Kepala Suku kalah, deh
Oke, beginilah ceritanya… Siang itu, sekitar jam 1, Mardies baru saja selesai mengerjakan CCNA Discovery 3 Chapter 1 dan 2 di PAS FM Pati. Dalam perjalanan ke rumah, di perempatan Pengadilan Negri sepeda Mardies dihentikan oleh seorang cewek nenek. Nenek itu badannya kecil, tingginya sekitar 1 meter, bungkuk, memakai baju lusuh, jarik (kain batik untuk bawahan), bertopi, membawa selendang gendongan (yang belakangan Mardies ketahui berisi gorengan), dan tangannya menggenggam teh manis anget dalam plastik. Umurnya Mardies taksir sekitar 70-an. Si Nenek kelihatan sehat wal afiat. Tidak ada kesan seperti pengemis atau gelandangan. Kesannya adalah seorang nenek yang sedang bepergian.
Si Nenek: Nak, antarkan saya ke selatan, ya! Nggak ada kendaraan, nih.
Mardies: (memandang sepeda sendiri yang nggak ada tempat boncengannnya, sepeda gunung). Nenek saya bonceng di sini nggak papa? Ini besi lho! (nggak nanya!)
Si Nenek: Nggak papa
Kemudian Mardies bantu Si Nenek naik ke atas sepeda. Maklum, Si Nenek badannya pendek dan sepeda Mardies lumayan tinggi. Sepeda memutar ke arah selatan. Dalam perjalanan,
Mardies: Nenek mau ke mana?
Si Nenek: Ke situ tuh. Dekat.
Mardies: (Salah sangka. Kirain rumah yang 50 meter di depan)
Sepeda terus melaju dan mulai memasuki jalan tanah yang berbatu dan berlumpur. Demi keseimbangan, Mardies turun sementara Si Nenek tetap di atas sepeda.
Mardies: Nenek mau ke Bertek?
Si Nenek: Bukan. Saya mau ke Suko. Dekat kok. Kalau Bertek kan masih ke sana lagi.
Mardies: Sudah pernah ke sini sebelumnya?
Si Nenek: Oo.. sudah.
Mardies: Mau ketemu siapa? Teman apa saudara?
Si Nenek: Mau mencari anak saya.
Mardies: (ada harapan cuci kaki dan celana begitu sampai di rumah anak Si Nenek)
Sepeda bertemu pertigaan.
Mardies: Belok apa lurus, Nek?
Si Nenek: (dengan nada mantap) Lurus.
Mardies: Nenek mau ke Tebon?
Si Nenek: Bukan. Tebon sih jauh. Saya mau ke Suko.
Mardies: (mulai terasa janggal, belum pernah mendengar nama desa Suko di sekitar situ). Sukokulon, Nek?
Si Nenek: Bukan, Sukobubuk.
Mardies: (GLODHAK!!! Setelah ratusan meter menerjang lumpur ternyata arahnya keliru?!) Kita salah arah, Nek. Sukobubuk itu seharusnya dari perempatan tadi ke arah utara. Tapi jauh banget, Nek. Mungkin sampai 10 kilo. Gini saja. Nenek Mardies antarkan ke perempatan tadi, trus Mardies carikan tumpangan ke Sukobubuk, ya!
Si Nenek: Terserah, deh.
Mardies: (nenek ini meragukan)
Dalam perjalanan kembali ke perempatan, Si Nenek terlihat sakit. Kepalanya dipegang-pegang dan mau muntah.
Mardies: Gimana, Nek? Kita istirahat dulu?
Si Nenek: Nggak usah. Terus saja.
Si Nenek mulai muntah-muntah di atas sepeda. Mardies mulai kebingungan.
Si Nenek: Turun di sini saja.
Mardies: Lho jangan! Nanti kaki Nenek kotor.
Tapi Si Nenek memaksa. Mardies mencarikan tempat istirahat. Siang itu cuaca panas. Kondisi Si nenek semakin memprihatinkan. Sempat terpikir waktu itu kalau beliau hampir menemui ajalnya. Ngeri. Si Nenek segera duduk dan berbaring. Seperti mau pingsan. Dalam kebingungan Mardies mencoba berfikir. Di dekat situ ada rumah sakit, tapi siapa yang bayar? Mardies nggak punya uang. Akhirnya dapat ide pinjam motor dan mengantarkan Si Nenek ke keluarganya di Sukobubuk. Si Nenek Mardies tinggalkan sendirian. Segera sepeda dipacu sekencangnya. Nggak peduli lagi pakai pakaian bagus (mau kuliah) dan bawa tas berisi notebook terkena cipratan lumpur. Untungnya lagi nggak pakai sepatu.
Mardies mencari Mas Luluk di PAS FM. Menceritakan kejadian tadi dengan singkat. Dan Mas Luluk yang baik hati merelakan Supra X-nya dihiasi lumpur. Mardies kembali menuju tempat Si Nenek. Kemudian meluncur ke Sukobubuk dengan tekad menemui keluarga Si Nenek.
Sebenarnya waktu itu Mardies belum pernah ke desa Sukobubuk. Jadi perlu banyak bertanya ke penduduk desa Banyuurip. Banyak penduduk yang berkata “Dekat, kok.” Tapi begitu dijalani kok jauh sekali. Mana nih, desanya? Kok nggak sampai-sampai. Padahal sudah melewati tanjakan curam berkali-kali. Ternyata kalau mau ke Sukobubuk harus memutar melalui desa Bermi dulu. Tidak efisien, tapi cuma itu jalan satu-satunya.
Dalam perjalanan Mardies bertanya lebih lengkap supaya tidak mengalami kesalahan seperti tadi. Keterangan yang berhasil dihimpun adalah: anak Si Nenek bernama Sukirah. Asalnya dari Ngembal, Kudus. Suaminya (menantu Si Nenek) Kasno, asal Bandung. Si Nenek bilang mau datang tapi anaknya nggak mau menjemput. Sebelum sampai Pati, Si Nenek juga berangkat dari Ngembal, Kudus.
Akhirnya sampai juga di Sukobubuk. Desa ini amat terpencil dan berlokasi di lereng gunung Muria. Mardies segera mampir ke warung terdekat untuk bertanya dan membeli bensin botolan. Waktu itu meteran bensin menunjukkan tanda empty.
Mardies: Pak, nenek ini mencari anaknya, Sukirah, asli Ngembal. Suaminya Kasno, asli Bandung. Bapak tau?
Yang punya warung: Sukirah..? Ng… kayaknya kok nggak ada. (bertanya ke Penduduk A) Kamu tau Sukirah? Istrinya Kasno.
Penduduk A: Kasno? Mat Kasno? Istrinya kan bukan Sukirah. (bertanya ke Penduduk B) Kamu tau, nggak?
Penduduk B: Apalagi saya. Coba Mas, sampeyan cari di sana. Di sana banyak orang nongkrong.
Mardies menuju ke lokasi orang nongkrong. Tapi nggak ada yang tau nama Sukirah. Ke warung yang lain. Ada yang namanya Sukirah. Tapi bukan Sukirah yang dimaksud. Mardies terus mencari ke berbagai warung dan tempat nongkrong. Hasilnya nihil. Capek. Ternyata Sukobubuk yang terpencil ini luas juga.
Setengah frustrasi, Mardies mulai meragukan kadar kewarasan otak Si Nenek.
Mardies: Nek, apa benar benar anak sampeyan Sukirah itu orang sini? Nenek yakin?
Si Nenek: Iya kok. Sudah setahun dia di sini. Tapi suaminya masih di Ngembal.
Mardies: Lho, kalau masih di Ngembal kenapa Nenek nekat ke sini? Nenek belum pernah ke sini, kan?
Si Nenek: (Diam. Terlihat bingung)
Mardies: Ya sudah, begini saja. Karena Sukirah tidak ketemu, sekarang Mardies mau mengantar Nenek kembali ke Ngembal. (Mardies berfikir: bisa juga rumah Si Nenek bukan di Ngembal. Atau Si Nenek gelandangan). Ngembal-nya yang mana? Ngembalrejo apa Ngembalkulon? (Nggak mau salah untuk yang kedua kalinya)
Si Nenek: Ngembalrejo.
Mardies: Benar Ngembalrejo? Bukan Ngembalkulon?
Si Nenek: Benar.
Sebelumnya sempat terpikir untuk menitipkan Si Nenek ke petinggi (perangkat desa). Tetapi khawatirnya nanti ditolak dan dianggap melempar tanggung jawab. Sempat juga terpikir (cuma selintas) untuk membuang Si Nenek ke Ngembal. Ah, membuang manusia? Nurani Mardies memberontak.
Kami pun meluncur ke Kudus. Di awal perjalanan motor bisa dipakai ngebut. Tapi bukan kebut-kebutan
Mulai pabrik Dua Kelinci jalan mulai berlubang dan macet. Di Terban hujan turun beramai-ramai. Mardies waktu itu nggak bawa jas hujan. Melihat Si Nenek menggigil membuat Mardies tambah kasihan. Duh, hati ini seperti tersayat-sayat. Mau berteduh tapi sudah terlanjur basah. Ya sudah dilanjutkan saja. Semoga lekas sampai. Si Nenek cuma Mardies suruh pegangan erat-erat saja.
Sampai di Ngembal, Mardies mulai mencari gang.
Mardies: (masih ragu) Gangnya yang mana, Nek?
Si Nenek: Yang itu. Ke utara (tapi tangannya menunjuk ke arah selatan)
Mardies mencoba menelusuri gang sambil bertanya-tanya kepada Si Nenek. Akhirnya Si Nenek menunjuk ke salah satu rumah. Mardies segera menghampiri rumah tersebut. Si Nenek turun dan langsung duduk di teras.
Si Nenek: Nah ini rumah saya. Tapi kok sepi, ya? Kemana itu Sukirah?
Bengong. Tadi dicari jauh-jauh sampai Pati, kok sekarang sepertinya Sukirah masih di Kudus. Rupanya Si Nenek sudah benar-benar pikun. Merogoh saku celana yang basah. Selamet. HPku masih hidup. Jam empat sore. Nggak papa hari ini bolos mata kuliah Sistem Operasi.
Prihatin melihat Si Nenek menggigil, Mardies membukakan pintu dan menyuruh Si Nenek Masuk. Di rumah itu ada anak cowok seumuran SMP (yang belakangan ketauan namanya Ridwan). Mardies nanyak ke Ridwan tapi Ridwan nggak kenal Si Nenek. Lalu Mardies tanya ke tetangga kiri-kanan. Tapi nggak ada yang kenal. Siyal. Kenapa bisa begini? Si Nenek ini mau dikemanain?
Hey, jangan putus asa, Mardies! Ngembal ini luas. Cari di tempat lain!
Mardies pun mencari Ibu Sukirah dengan ditemani Ridwan. Thank you so much my friend! Tanya ke sana, tanya ke sini. Dan akhirnya kerja keras kami membuahkan hasil. Keberadaan Ibu Sukirah (biasa dipanggil Mbak Sukirah) berhasil dideteksi dan teridentifikasi mempunyai seorang ibu yang badannya kecil dan bungkuk.
Mbak Sukirah menjemput Si Nenek di rumah Ridwan. Mardies jadi tau kalo kejadian Si Nenek kabur dari rumah bukan sekali ini saja. Dan sebenarnya Si Nenek kabur sudah dari kemarin. Mempunyai seorang ibu yang pikun adalah ujian bagi seorang anak seperti Mbak Sukirah ini.
Akhirnya bisa tersenyum juga. Kembali ke Pati. Menemani teman-teman ujian CCNA. Malamnya terpaksa menghadiri presentasi MLM pulsa yang memuakkan. Pulang. Tidur dengan pulas. Ee.. Tengah malam dibangunkan suara SMS wagu™. Elfrida siyalaaan! Capek tauk!








yup, panjang sekali ceritanya mas mardies, tapi enak ngebacanya. sebuah pengalaman yang banyak mengandung sisi kemanusiaannya. betapa menolong seseorang, apalagi yang sudah sepuh, ternyata bisa membuka sisi kearifan kita. bisa ngebayangkan kita kelak kalo kita sudah seusia si nenek itu, lalu dalam keadaan pikun mesti harus mencari anaknya. repotnya lagi posisi rumahnya pun dah ndak diingat lagi. Mantap. mudah2an nenek yang sudah pikun tadi ndak lupa mendoakan mas mardies supaya cepet klar kuliahnya agar ilmunya segera bisa diterapkan untuk kehidupan banyak orang, hehehehe
hehe, ketemu nenek nekat ya ampe minta di bonceng segala
Huff… Petualangan yg menegangkan!
Ning jadi ikutan tegang & penasaran bacanya! Gak kebayang kalau si nenek pikun bener-bener lupa dimana rumahnya. Mungkin ceritanya lebih panjang
good posting..
ceritanya benar benar kejadian nyata dan di ungkapkan dengan bahasa sendiri yang bebas dan unik.. aku suka ma gaya bahasa kamu…
salam untuk anda yang telah menunaikan tugas yang mulia
weiiijannnn..di bikin sinetron keren nichh..!!!!
*fotomu mana bos..??*
petulangan yang sarat dengan etika moral. moga bisa diambil hikmahnya
puanjang tenan..tapi ceritanya asyik, sepertinya bagus tu di filemkan
*saya ngga sanggup berpetualang begitu
haduuuhh.. suda deg2an. kirain neneknya invisible…
Wah,ceritanya cukup panjang banget…
Dan menarik sekali…
Aku tertarik dangan yang namanya mardies,dia anak yang baik dan bertanggung jawab…
Tapi ngomong2, mardies dalam cerita apa sama dengan yang punya blog :O
ocre dech
bener2 panjang ceritanya, tapi syukurlah ternyata nurani sampeyan masih mulia sehingga tidak menelantarkan sinenek yg ternyata pikun
Masya Allah!
Hari gini masih ada manusia yang rasa kemanusiaannya tinggi banget.. salut mas mardi.. penggambaran anda entang pati kudus mengena banget, membawa saya ke desa banyu urip dekat perbatasan pati kudus itu loh! hehehehehehe
Benar2, cerita yang mengesankan, sekaligus menggelitik. Cz gara2 bca crita njenengan, q jd suka senyum2 sendiri.
)
(tapi perlu di’ingat bahwa q masih ngeleh.)
GBU
Saya salut dengan sikap mas
yeilah mas…. kenapa nggak di google dulu…
kan jadi gampang nyarinya…
Salute dengan mas mardi, mas memang keren mas! saya membacanya dari ngantuk jadi semangat…… dan penuh inspirasi.
Coba kalau di pelem kan yah
Pertahankan terus MAS …. Allah Pasti membalas budi baikumu…Amienn….
Ceritanya menyentuh. Kelak Mardies pasti mendapat balasan yang sesuai dari Yang Maha Kuasa. Selamat, Bro.
Wasyuuu….
INi klo dibikin biografi bagus juga. judulnya “nenek dudul ketemu pemuda jadul”. Gak ngira kamu punya jiwa kemanusiaan, disisi lain juga punya jiwa petualangan.
Soal nyasar itu masih untung. Untung aja gak nyasar ke Desa Lorong Indah. andaikata nylonong kesitu pasti seru abis ceritanya.
engkau sungguh blogger berhati mulia nak!
panjang tenan!
speechless! apa speed reading ya?
@Sawali Tuhusetya
Yah mudah-mudahan dioakan. Mardies yang dulunya mahasiswa paling dudul (makul Algoritma dapat nilai D) di kelas besok bisa lulus dengan selamat.
@Laks
Iya bener juga. Si Nenek ini memang nekat
@Bening
Si Nenek emang bener2 lupa kok. Untungnya Mardies dibantu Ridwan keliling nyari rumah anak Si Nenek.
@alfaroby
Ini memang bahasa Mardies sendiri. Bahasa yang wagu™
@escoret
Apa hubungannya wajan sama sinetron?
Foto Mardies cuma sedikit. Nggak ada yang bagus. Malu aku
@chung chin
Setiap kisah pasti ada hikmahnya
*halah! gayane…*
@kabarihari
Mardies maen filem? Filem komedi kali ya?
@nengbiker
Invisible? Ada-ada saja kamu Mbak
@zacky
Memangnya Mardies ada dua? Ingat kata iklan: “Mardies™, memang tiada duanya”
@Totok Sugianto
Ya nggak bakalan tega to Pak. Nenek juga manusia. Paling jalan keluar terakhir adalah panti jompo atau dinas sosial.
@elfrida
Menggelitik? Memangnya Mardies itu pelawak?
@indra kh
Mardies salut Mas Indra mau berkunjung ke blog wagu™ ini
@sofian blue
Dasar Gugelholic
@ Raffael
Lagi-lagi ada yang ngomongin soal main filem. Mardies jadi tersanjung
*Tersanjung mode: ON*
@WIMPY
Apanya yang dipertahankan? Kewagu™an mardies?
@BlogDokter
Terima kasih Pak Dokter. Semoga Pak Dokter lekas sembuh.
@BlothonK
*ngakak*
Belum pernah kepikiran bikin menu spesial buat Lorong Indah: nenek-nenek
@sluman slumun slamet
Ah, Pak Slamet
*malu*
@peyek
Salah satu gejala sepid riding
duuh.. bener-bener panjanggg dan panjanggg ^^
‘lam kenal yaa.. thanks da mampir ke blogkoe..
bener2 mulia..pasti dikau akan terkenal dikalangan nenek2..
wah sip broo…pengalaman yg asik tuh..jaga kebaikan hatimu
thx dah main ke blogku
salam
waduh..mar sungguh mulia ( Preet…. ) km tuh mending bikin cerpen ajah,hkhk jd ngebayangin nenek di boncel sepeda gunung trus mar di belakang na wah2 kayak si cecep yang wagu tu ma tamara blezinsky…hehe serasi mar
eh..tunggu dulu itu si elmo pupu nyasar juga:P
nenek saya umurnya 70-an, tapi gak pikun seperti nenek itu kok.
Tapi kok sepertinya Sukirah gak khawatir ya kalo ibunya tersebut kabur dari rumah? jangan2 dia sengaja ngusir ibunya lagi
Karena udah biasa, kali? Ndak boleh panik emang kalau kejadian kaya gini.
semoga hati mas mardi yang tulus nggak akan hilang dan menyebar ke blogger yang membaca …. salut mas !
ternyata masih ada juga yang berbaik hati kepada nenek-nenek
cerita yang membuat saya menjadi terkenang sama almarhum nenek, yang juga pikun. tapi Alhamdulillah ngak pernah kabur
sepid riding ON

Abang memang berhati mulia… afalagi kalo yang minta dianter cewek ABG tralala, fasti lebih mulia lagi…
*dibonceng*
Duh… nenek-nenek.
salut buat anda bung… .
Angkat topi buat keuletan dan kesabaran Mas Mardies!
Hey Mardies, Blognya Bagusssssssssssssssssssssssssssssss Bangettttttttttttttttttttttttttttttt tapi kunjungin juga blog Q di http://www.bodjonk-zarian.blogspot.com
Panjang ceritanya, sepanjang jalan yg harus ditempuh emang untuk mengantar nenek itu. btw salut saya sama situ. blognya sayah link yah. thx
sudah sampai ngembalrejo sekalian mampir ke rumahku mas.. dijamin tidak sejauh sukobubuk… tapi dijamin tidak ketemu aku… hehehe soale lagi ngadem di waha..
mas mardies salut aku sama njenengan. wingi kok ora cerito leh mas wektu aku ketemu snjenengan. bravo